Sabtu, 05 Februari 2011

TOKEN ECONOMY (APTL)

TOKEN ECONOMY

PENGERTIAN TOKEN ECONOMY
Tujuan diberlakukannya token economy adalah untuk meningkatkan perilaku individu yang diinginkan, dan untuk mengurangi perilaku individu yang tak diinginkan. token economy sangat tepat untuk diterapkan dalam setting pendidikan. Penerapan token economy adalah sebagai berikut.
Individu yang bisa melakukan satu hal positif, akan mendapatkan poin tertentu sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya. Poin yang didapatkan oleh individu ini disebut sebagai token. Token diberikan sesegera mungkin setelah perilaku yang diinginkan bisa dilakukan dengan tepat oleh individu. Kemudian, setelah token terkumpul, sesuai dengan kesepakatan, token bisa ditukar dengan back up reinforcer. Karena token dipasangkan dengan reinforcer lain, bisa dikatakan token menjadi reinforcer yang dikondisikan yang memperkuat perilaku yang diinginkan tersebut. Back up reinforcer hanya bisa diperoleh ketika individu berhasil mengumpulkan token sebanyak yang telah disepakati sebelumnya. Token itu sendiri hanya bisa diperoleh ketika individu berhasil melakukan satu perilaku yang diinginkan dengan tepat. Back up reinforcer dipilih karena diketahui mempunyai kekuatan untuk bisa mempengaruhi perilaku individu, bisa meningkat untuk perilaku yang diinginkan, dan bisa menurun untuk perilaku yang tidak diinginkan.
KOMPONEN TOKEN ECONOMY
• Perilaku target yang ingin diperkuat
• Token yang digunakan sebagai reiforcer yang dikondisikan (reinforcer bersyarat)
• Back up reinforcer yang akan ditukar dengan token
• Jadwal reinforcement untuk pemberian token.
• Ketentuan skala berapa banyak token yang bisa ditukarkan dengan satu back up reinforcer
• Waktu dan tempat untuk menukar token menjadi back up reinforcers
• Penerapan response cost untuk beberapa kasus. Artinya bahwa jika individu tidak mampu menunjukkan perilaku yang tepat, maka token yang telah dikumpulkannya akan dikurangi.
MENERAPKAN TOKEN ECONOMY
1. Menentukan perilaku target
Sebagaimana prosedur pengubahan perilaku lainnya, langkah yang dilakukan pertama kali untuk token economy adalah penentuan perilaku target. Perilaku target yang dimaksud, bisa berupa perilaku yang diinginkan dan bisa pula perilaku yang tidak diinginkan. Untuk perilaku yang diinginkan, maka token economy digunakan untuk meningkatkannya, sedangkan untuk perilaku yang tak diinginkan, token economy digunakan untuk mengurangi perilaku tersebut.
Dalam hal ini, penentuan perilaku target harus observable dan operasional. Tujuan dari pemberian definisi operasional adalah untuk menegaskan bahwa individu yang ingin diubah perilakunya, benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukannya.
2. Identifikasi item yang bisa digunakan sebagai token
Token yang dimaksudkan di sini haruslah sesuatu yang nyata, riil, observable, dan bisa diberikan sesegera mungkin oleh agen perubahan kepada individu yang dijadikan target pengubahan perilaku, setelah perilaku yang diinginkan muncul. Token harus bersifat praktis dan mempermudah agen perubahan untuk bisa langsung memberikannya pada individu yang bersangkutan. Token harus berupa sesuatu yang bisa dikumpulkan oleh individu, bahkan kalau bisa, merupakan sesuatu yang mudah dibawa oleh individu. Biasanya, token berupa kartu, tanda tangan, poin, bintang, replica uang, stiker, manik-manik, karton, dan stempel.
3. Identifikasi back up reinforcer
Efektivitas token economy tentu saja bergantung pada back up reinforcer yang diberikan. Hal ini disebabkan karena token economy disajikan bersama-sama dengan back up reinforcer sehingga bisa disebut sebagai reinforcer bersyarat. Back up reinforcer harus dipilih secara khusus dan disesuaikan dengan karakteristik individu yang dijadikan sasaran untuk pengubahan tingkah laku.
Back u reinforcer bisa berupa sesuatu yang bisa dimakan seperti snack atau minuman, sesuatu berupa barang mainan, activity reinforcer misalnya games yang sangat menarik, hak istimewa (privilege) misalnya gambar hasil karya dipajang di mading, dan kedekatan (proximity), misalnya membantu guru membagikan buku di kelas.
Back up reinforcer tidak tersedia untuk individu yang bersangkutan, kecuali hanya bisa diperoleh dengan menukarkan token. Hal ini akan mempertinggi nilai penguatan, sebab dengan ketiadaan back up reinforcer tanpa token, berarti memberlakukan prinsip deprivasi untuk individu. Sehingga lebih mudah untuk membuat individu melakukan perilaku yang diinginkan.
Yang bisa dijadikan sebagai back reiinforcer adalah sesuatu yang berada di luar kebutuhan dasar individu, merupakan sesuatu yang tiadk biasa, dan bisa juga bernilai tinggi, sehingga tidak mungkin didapatkan oleh individu dalam situasi hari-hari biasa.
4. Memutuskan jadwal yang tepat untuk pemberian reinforcement
Agen perubahan harus menentukan jadwal pemberian reinforcement sebelum memberlakukan peraturan tentang token. Jadwal ini berisi kapan seseorang bisa mendapatkan token. Ada jadwal yang dinamakan intermitten dan ada pula yang dinamakan continue (berkelanjutan).
5. Menetapkan banyaknya token yang bisa ditukar
Agen perubahan juga harus menentukan banyaknya token yang bisa ditukarkan dengan back up reinforcer. Sehingga hanya setelah berhasil mengumpukan token sebanyak yang ditentukan, individu bisa mendapatkan back up reinforcer yang telah disediakan oleh agen perubahan.
6. Menetapkan waktu dan tempat penukaran token
Individu mengumpulkan token dari perilaku yang diinginkan sepanjang waktu. Secara berkala, setelah jumlah token mencukupi, individu diperbolehkan untuk menukarkan token mereka dengan back up reinforcers. Waktu dan tempat untuk pertukaran harus direncanakan terlebih dahulu. Dalam beberapa kasus, ada tempat yang disebut dengan toko token, yaitu tempat khusus di mana back up reinforcers disimpan. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, back up reinforcer seharusnya tidak disimpan di tempat yang bisa diakses oleh individu dengan mudah.
7. Memutuskan perlunya pemberlakuan response cost
Response cost tidak selalu digunakan dalam token ekonomi. Jika tujuan token ekonomi adalah untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan tidak ada masalah di dalamnya, token ekonomi tidak perlu memasukkan response cost sebagai salah satu komponennya. Jika ada perilaku yang tidak diinginkan yang tiba-tiba muncul, maka response cost bisa dimasukkan dalam token ekonomi.
8. Latihan dan manajemen staff
Dalam setting apapun, sebelum melakukan prosedur token economy, maka staff dalam setting tersebut harus dilatih terlebih dahulu untuk bisa menerapkan token economy dengan baik. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
• Membedakan setiap detail dari semua target perilaku
• Memberikan token segera setelah perilaku target terjadi, sesuai dengan
jadwal reinforcement yang benar
• Membedakan setiap detail dari semua masalah perilaku yang diidentifikasi
• Penerapan response cost segera setelah terjadinya perilaku bermasalah
• Mempertahankan integritas token dan mencegah pencurian atau pemalsuan token
• Mengetahui waktu dan banyaknya token yang bisa ditukar dengan back up reinfprcer
PRINSIP POKOK TOKEN ECONOMY
1. Agen perubahan harus memberikan token segera setelah perilaku target yang diinginkan terjadi
2. agen perubahan harus memberikan pujian pada individu di samping memberikan token setiap kali perilaku yang diinginkan terjadi
3. untuk anak-anak atau individu dengan cacat intelektual yang cukup parah, di awal program, back up reinforcers harus diberikan kepada individu bersamaan dengan diberikannya token, sehingga token akan lebih cenderung menjadi penguat bersyarat untuk masa depan
4. karena token economy tidak tersedia dalam kehidupan keseharian, maka sebelum individu berhenti melakukan perawatan, prosedur token economy harus dihentikan.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PENERAPAN TOKEN ECONOMY
Menggunakan program penguatan token memiliki banyak keuntungan (Ayllon & Azrin, 1965; Kazdin & Bootzin, 1972; maag, 1999).
• Token dapat digunakan untuk memperkuat perilaku target segera setelah terjadinya perilaku.
• Token economy sangat terstruktur, sehingga perilaku target yang diinginkan bisa diperkuat dengan lebih konsisten.
• Token bisa dijadikan sebagai reinforcers bersyarat karena dipasangkan dengan berbagai reinforcers lain.
• Token mudah diberikan oleh agen perubahan dan mudah pula diakumulasikan oleh penerimanya.
• Token dapat diukur dengan mudah, sehingga perilaku yang berbeda dapat menerima token lebih besar atau lebih kecil sebagai bentuk reinforcement.
• Response cost lebih mudah untuk diiimplementasikan dalam token ekonomi.
• Individu dapat mempelajari keterampilan perencanaan, untuk dapat menyimpan token dengan lebih baik.
Sedangkan kerugian penggunaan token economy adalah sebagai berikut.
• penggunaan waktu dan usaha yang digunakan untuk mengatur dan melaksanakan program
• biaya pembelian back up reinforcers
• pelatihan staf, terutama ketika token economy memiliki komponen yang kompleks atau ketika dilakukan dalam skala besar
Ketika mempertimbangkan penggunaan token economy, harus diperhatikan pula tiga pertanyaan dasar. Pertama, bisakah staf atau agen perubahan lainnya dilatih untuk melaksanakan program tersebut secara konsisten setiap hari? Kedua, apakah ada sumber dana yang cukup untuk melakukan program? ketiga, apa saja manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan program ini?

(terjemahan Applied Behavior Therapy, by Naning 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar