Sabtu, 05 Februari 2011

Pengenalan Modifikasi Perilaku

BAB I PENGENALAN MODIFIKASI PERILAKU
1. DEFINISI PERILAKU MANUSIA
Sesuatu bisa dikatakan sebagai perilaku apabila memiliki ciri sebagai berikut.
a. Perilaku adalah apa yang dilakukan dan dikatakan oleh seseorang
Perilaku tidak sama dengan label. Jika kita mengatakan Zarra sedang marah, maka marah bukan berarti perilaku. Yang dinamakan perilaku adalah, Zarra sedang berteriak-teriak, membanting vas bunga, dan mengumpat. Tiga hal tersebut bisa disebut sebagai perilaku, karena merupakan hal yang dilakukan dan dikatakan oleh individu, dan bisa diberi label sebagai kemarahan.
b. Perilaku memiliki satu atau lebih dimensi yang dapat diukur
Ada 6 dimensi fisik dari sebuah perilaku. Dimensi tersebut adalah durasi, frekuensi, topografi, locus,
c. Perilaku dapat diamati, dijelaskan, dan direkam oleh orang lain atau oleh orang yang terlibat dalam perilaku
Karena perilaku adalah sebuah tindakan yang memiliki dimensi fisik, apapun yang terjadi dapat diamati. Orang dapat melihat atau mendeteksi ketika itu terjadi. Karena perilaku dapat diamati, maka orang yang melihat perilaku terjadi, dapat menggambarkan dan merekam perilaku tersebut. Dalam kasus Zarra, orang di sekitarnya bisa merekam apa saja yang dilakukan Zarra sebagai bentuk kemarahannya.
d. Perilaku memiliki dampak pada lingkungan, termasuk lingkungan fisik atau lingkungan sosial (orang lain dan diri kita sendiri)
Perilaku bisa menimbulkan pengaruh pada lingkungan di mana perilaku tersebut terjadi. Kadang-kadang, efek pada lingkungan ini bisa dilihat dengan jelas. Misalnya, Zarra memutar lampu, dan lampu menyala (efek pada lingkungan fisik). Zarra mengangkat tangan di kelas, kemudian dosen mempersilahkan Zarra untuk menjawab pertanyaan (mempengaruhi orang lain). Zarra membaca nomor telepon dari daftar, dan hal ini akan memungkinkannya untuk ebih mudah mengingat nomor yang tersebut (efek pada diri sendiri).


e. Perilaku didasarkan pada hukum-hukum behavioral, terjadi secara sistematis dan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa lingkungan
Prinsip-prinsip dasar perilaku menggambarkan hubungan fungsional antara perilaku individu dengan peristiwa lingkungan. Prinsip-prinsip behavioral menggambarkan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh peristiwa lingkungan. Prinsip-prinsip dasar perilaku merupakan landasan dari prosedur modifikasi perilaku. Dalam hal ini peristiwa lingkungan dapat menyebabkan terjadinya perilaku. Itu berarti, peristiwa lingkungan bisa diubah sebagai strategi untuk mengubah perilaku.
Sebagai contoh, ketika anak dengan gangguan autistik menerima perhatian yang tinggi dari guru, perilaku mengganggunya jarang terjadi. Namun ketika anak tersebut menerima perhatian yang kurang dari guru, perilaku mengganggunya terjadi lebih sering daripada sebelumnya. Bisa disimpulkan bahwa perilaku mengganggu secara fungsional berhubungan dengan tingkat perhatian dari guru.
f. Perilaku terdiri atas perilaku yang dapat diamati/ tampak (overt behavior) dan perilaku yang tidak dapat diamati/ tidak tampak (covert behavior)
Perilaku yang dapat diamati/ tampak (overt behavior) adalah sebuah tindakan yang dapat diamati dan direkam oleh orang lain. Di samping itu, ada pula perilaku yang disebut sebagai perilaku yang tidak dapat diamati/ tidak tampak (covert behavior). Perilaku yang tidak dapat diamati, juga disebut peristiwa pribadi (Skinner, 1974), yang tidak dapat diamati orang lain. Sebagai contoh, berpikir adalah perilaku yang tidak dapat diamati, sehingga tidak dapat direkam oleh orang lain. Berpikir hanya dapat diamati oleh orang yang terlibat dalam perilaku.
2. CONTOH PERILAKU
Marta duduk di depan komputer dan mengetik surat kepada orang tuanya.
Contoh ini bisa disebut sebagai perilaku, karena menekan tombol pada keyboard ketika mengetik adalah suatu tindakan, memiliki dimensi fisik (frekuensi dari menekan tombol, durasi mengetik), yang dapat diobservasi dan dapat diukur, memiliki dampak terhadap lingkungan (menghasilkan huruf di layar), dan sesuai dengan hukum behavioral(terjadi karena proses pembelajaran terdahulu mengajarkan bahwa menekan tombol dapat menghasilkan huruf di layar).


3. DEFINISI MODIFIKASI PERILAKU
Modifikasi perilaku adalah bidang psikologi yang menaruh perhatian pada analisis dan modifikasi perilaku manusia.
 Menganalisis berarti mengidentifikasi hubungan fungsional antara lingkungan dan perilaku tertentu untuk memahami alasan-alasan perilaku atau untuk menjelaskan mengapa orang berperilaku.
 Memodifikasi berarti mengembangkan dan menerapkan prosedur untuk membantu orang mengubah perilaku mereka. Melibatkan pengubahan peristiwa lingkungan sehingga dapat mempengaruhi perilaku.
 Prosedur modifikasi perilaku digunakan oleh para profesional untuk membantu seseorang mengubah perilaku yang signifikan secara sosial, dengan tujuan meningkatkan beberapa aspek dari kehidupan seseorang.
4. KARAKTERISTIK MODIFIKASI PERILAKU
• Fokus Pada Perilaku
Prosedur modifikasi perilaku dirancang untuk mengubah perilaku, bukan karakteristik atau ciri pribadi. Oleh karena itu, modifikasi perilaku memberikan penekanan pada pelabelan. Sebagai contoh, modifikasi perilaku tidak digunakan untuk mengubah autisme (label); lebih tepatnya, modifikasi perilaku digunakan untuk mengubah perilaku bermasalah yang ditunjukkan oleh anak-anak autistik.
Dalam modifikasi perilaku, perilaku yang harus dimodifikasi disebut perilaku target. Sebuah perilaku yang tidak diinginkan adalah perilaku target yang perlu untuk diturunkan secara frekuensi, durasi, atau intensitas. Merokok adalah contoh dari perilaku yang berlebihan. Sedangkan belajar, merupakan contoh perilaku yang diinginkan dan harus ditingkatkan.
• Prosedur Didasarkan Pada Prinsip-Prinsip Perilaku.
Modifikasi perilaku adalah penerapan prinsip-prinsip dasar yang pada dasarnya berasal dari penelitian eksperimental dengan menggunakan binatang (Skinner, 1938).
• Menekankan Pada Peristiwa Lingkungan Saat Ini.
Modifikasi perilaku melibatkan penilaian dan modifikasi peristiwa-peristiwa lingkungan yang secara fungsional berhubungan dengan perilaku. Perilaku manusia dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa di lingkungan, dan tujuan dari modifikasi perilaku adalah mengidentifikasi peristiwa-peristiwa itu.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengatakan bahwa anak dengan gangguan autist terlibat dalam perilaku bermasalah (seperti menjerit, memukul dirinya sendiri, menolak untuk mengikuti petunjuk) karena anak ini adalah anak autis. Dengan kata lain, orang itu menunjukkan bahwa autisme menyebabkan anak terlibat dalam perilaku bermasalah. Namun sebenarnya, autisme hanyalah sebuah label yang menggambarkan pola perilaku anak. Label itu tidak bisa menjadi penyebab dari sebuah perilaku, karena dalam label tidak terdapat entitas fisik maupun kejadian-kejadian tertentu. Penyebab perilaku harus dapat ditemukan di lingkungan (termasuk di dalamnya keadaan biologis anak).
• Deskripsi yang tepat mengenai Prosedur Modifikasi Perilaku (Baer et al., 1968).
Prosedur modifikasi perilaku melibatkan perubahan tertentu dalam peristiwa lingkungan yang secara fungsional berhubungan dengan perilaku. Supaya prosedur efektif ketika digunakan, harus melalui perubahan kejadian di lingkungan secara spesifik. Dengan menggambarkan prosedur yang tepat, peneliti dan profesional lain membuatnya lebih memungkinkan prosedur dapat digunakan dengan benar pula setiap saat.
• Pengubahan dilakukan oleh orang-orang dalam kehidupan sehari-hari (Kazdin, 1994).
Prosedur modifikasi perilaku yang dikembangkan oleh para profesional yang terlatih dalam bidang modifikasi perilaku. Namun, prosedur modifikasi perilaku sering dan tidak jarang dilakukan oleh orang-orang seperti guru, orang tua, pengawas kerja, atau orang yang bekerja dalam bidang lain untuk membantu pengubahan perilaku. Orang-orang yang melaksanakan prosedur modifikasi perilaku harus melakukannya hanya setelah menerima pelatihan yang memadai. Deskripsi yang tepat mengenai prosedur, serta pengawasan dari para profesional lebih memungkinkan bagi orangtua, guru, dan profesi lain untuk menerapkan prosedur pengubahan perilaku dengan benar.
• Pengukuran Perubahan Perilaku.
Salah satu keunggulan dari modifikasi perilaku adalah penekananyan pada pengukuran dimensi perilaku sebelum dan sesudah intervensi (perlakuan) untuk mendokumentasikan perubahan perilaku yang dihasilkan dari prosedur modifikasi perilaku. Di samping itu, penilaian yang berkelanjutan dari perilaku yang dilakukan di luar titik intervensi baik untuk dilakukan, karena bisa digunakan untuk menentukan apakah perubahan perilaku dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
• Mengurangi penekanan pada peristiwa masa lalu sebagai penyebab terjadinya suatu perilaku
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa perilaku bisa terjadi karena adanya pengaruh lingkungan. Pengaruh ini bisa terjadi saat ini atau di masa lalu. Namun, untuk kejadian lingkungan yang terjadi di masa lalu, tidak bisa dijadikan patokan utama penyebab terjadinya perilaku. Karena, berbeda dengan kejadian lingkungan saat ini, kejadian lingkungan di masa lalu merupakan sesuatu yang telah lewat, sehingga tidak mungkin untuk berubah.
• Menolak hipotesis yang mendasari terjadinya perilaku.
Meskipun beberapa bidang psikologi, seperti pendekatan psikoanalitik Freudian, mungkin tertarik dalam hipotesis penyebab perilaku, misalnya Oedipus complex, modifikasi perilaku menolak adanya hipotesis yang mendasari terjadinya perilaku. Perkiraan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi penyebab suatu perilaku tidak dapat diukur atau dimanipulasi untuk menunjukkan hubungan fungsional terhadap perilaku mereka.
5. SEJARAH MODIFIKASI PERILAKU
• Ivan P. Pavlov (1849 - 1936)
Pavlov melakukan percobaan yang mengungkap proses dasar respondent conditoning. Dia menunjukkan bahwa refleks (air liur sebagai respons terhadap makanan) dapat dikondisikan untuk stimulus netral. Dalam eksperimennya, Pavlov menyajikan stimulus netral (suara metronom) dan pada saat yang sama ia menyajikan makanan untuk anjing. Kemudian, anjing berliur dalam menanggapi suara metronom saja. Pavlov menamakan ini refleks yang dikondisikan/ refleks bersyarat (Pavlov, 1927).
catatan : makanan (stimulus yang tidak dikondisikan/ stimulus netral)
suara metronom (stimulus yang dikondisikan)
air liur (refleks)

• Edward L. Thorndike (1874 - 1949)
Kontribusi utama Thorndike adalah deskripsi dari hukum efek. Hukum efek mengatakan bahwa suatu perilaku yang menghasilkan efek yang baik pada lingkungan ini lebih mungkin diulang di masa depan. Thorndike terkenal dengan percobaannya, dia meletakkan kucing dalam sangkar dan mengatur makanan di luar kandang, di mana kucing bisa melihatnya. Untuk membuka pintu kandang, kucing itu harus memukul sebuah tuas dengan cakar. Thorndike menunjukkan bahwa kucing belajar menekan tuas dan membuka pintu kandang. Setiap kali kucing dimasukkan ke dalam kandang, dia akan menekan tuas lebih cepat karena perilaku memukul tuas yang dilakukannya akan menghasilkan efek yang baik pada lingkungan: yaitu membiarkan kucing untuk mendapatkan makanan di luar kandangnya(Thorndike, 1911).
• John B. Watson (1878 - 1858)
Dalam artikel "Psikologi sebagaimana yang dilihat oleh Para Behavioris," diterbitkan pada tahun 1913, Watson menegaskan bahwa perilaku yang dapat diamati merupakan materi yang tepat dari ilmu psikologi dan bahwa semua perilaku dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa lingkungan. Secara khusus, Watson menggambarkan stimulus - respon psikologi di mana peristiwa lingkungan (rangsangan) menghasilkan respons. Watson memulai gerakan dalam psikologi yang disebut behaviorisme (Watson, 1913, 1924).
Skinner memperluas bidang behaviorisme yang pada awalnya digambarkan oleh Watson. Skinner menggambarkan perbedaan antara respondent conditioning (refleks yang dikondisikan/ pengkondisian refleks yang digambarkan oleh Pavlov dan Watson) dan operant conditioning, di mana konsekuensi dari dilakukannya suatu perilaku akan mengontrol kejadian-kejadian/ perilaku di masa yang akan datang. (seperti dalam Hukum efek Thorndike). Penelitian Skinner menguraikan prinsip-prinsip dasar operant conditioning.
• Awal Penelitian Modifikasi Perilaku
Setelah Skinner memperkenalkan prinsip-prinsip operant conditioning, para peneliti terus mempelajarinya di laboratorium (Catania, 1968; Hoing, 1966). Di tahun 1950-an, para peneliti mulai menunjukkan prinsip-prinsip dasar perilaku dan mengevaluasi prosedur modifikasi perilaku manusia. Di awal penelitian ini, yang diamati adalah perilaku anak-anak (Azrin & Lindsley, 1956; Baer, 1960; Bijou, 1957), orang dewasa (goldiamond, 1965; Verplanck, 1955; Wolpe, 1958), pasien dengan penyakit mental (Ayllon & Azrin, 1964; Ayllon & Michael, 1959), dan orang-orang cacat mental (ferster, 1961; Fuller, 1949; Wolf, Risley, & Mees, 1964). Sejak awal penelitian dengan modifikasi perilaku manusia di tahun 1950-an, ribuan penelitian telah menetapkan efektivitas prinsip-prinsip dan prosedur modifikasi perilaku.
• Publikasi dan Kejadian utama
Sejumlah buku sangat mempengaruhi perkembangan bidang modifikasi perilaku. Selain itu, jurnal ilmiah dikembangkan untuk mempublikasikan penelitian mengenai analisis perilaku dan modifikasi perilaku, dan organisasi profesional dibentuk untuk mendukung kegiatan penelitian dan profesional dalam analisis perilaku dan modifikasi perilaku.
6. BIDANG PENERAPAN MODIFIKASI PERILAKU
• Cacat perkembangan
Orang dengan cacat perkembangan seringkali belum dapat mengembangkan perilaku yang tepat, sehingga modifikasi perilaku bisa digunakan untuk mengajarkan berbagai keterampilan fungsional untuk mengatasi hal ini (Krik, 1993). Di samping itu, orang-orang dengan cacat perkembangan mungkin menunjukkan masalah serius dalam berperilaku seperti perilaku yang merugikan diri sendiri, perilaku agresif, dan perilaku merusak. Sebuah penelitian dalam modifikasi perilaku menunjukkan bahwa perilaku ini sering dapat dikontrol atau dihilangkan dengan memberikan intervensi pada perilaku (Barret, 1986; van Houten & Axelrod, 1993; Whitman, Scibak, &, 1983).
• Penyakit Mental
Modifikasi perilaku telah diterapkan pada pasien dengan penyakit mental kronis untuk memodifikasi perilaku tersebut sebagai keterampilan hidup sehari-hari, perilaku sosial, perilaku agresif, kepatuhan pengobatan, perilaku psikotik, dan keterampilan kerja (Scotti, mcMorrow, & Trawitzki, 1993). Salah satu kontribusi penting dari modifikasi perilaku adalah pengembangan prosedur motivasi bagi pasien dalam kelembagaan yang dikenal sebagai token ekonomi (Ayllon & Azrin, 1968). Token ekonomi masih banyak digunakan dalam berbagai setting pengubahan perilaku (Kazdin, 1982).
• Pendidikan
Prosedur modifikasi perilaku juga telah digunakan dalam pendidikan untuk meningkatkan teknik-teknik pengajaran dan meningkatkan pembelajaran siswa (Michael, 1991).
Dalam pendidikan khusus, yaitu pendidikan dengan orang-orang cacat di dalamnya, modifikasi perilaku telah memainkan peran utama (Rusch, Rose, & Greenwood, 1988) dalam mengembangkan metode pengajaran, masalah pengendalian perilaku di dalam kelas, meningkatkan perilaku sosial dan keterampilan fungsional , mempromosikan pengelolaan diri, dan pelatihan guru.
• Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah proses membantu orang mendapatkan kembali fungsi normal setelah cedera atau trauma, seperti cedera kepala dari kecelakaan atau kerusakan otak dari stroke. Modifikasi perilaku digunakan untuk mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan sesuai dengan rutinitas rehabilitasi seperti terapi fisik, untuk mengajarkan keterampilan baru yang dapat menggantikan keterampilan yang hilang karena cedera atau trauma, untuk mengurangi masalah perilaku, untuk membantu mengelola sakit kronis, dan untuk meningkatkan kinerja memori (Bakke et al., 1994; Davis & Chittum, 1994; O'Neill & Gardner, 1983).
• Komunitas Psikologi
Dalam psikologi masyarakat, intervensi perilaku dirancang untuk mempengaruhi perilaku banyak orang dengan cara yang menguntungkan semua orang. Beberapa target intervensi perilaku masyarakat termasuk mengurangi sampah, peningkatan daur ulang, mengurangi konsumsi energi, mengurangi berkendara yang tidak aman, mengurangi penggunaan narkoba ilegal, meningkatkan penggunaan sabuk pengaman, mengurangi parkir ilegal di tempat yang tidak seharusnya, dan mengurangi kecepatan dalam berkendara (Cope & Allred, , 1991; Geller & Hahn, 1984; Ludwig & Geller, 1991; Van Houten & Nau, 1981).
• Psikologi Klinis
Dalam psikologi klinis, prinsip-prinsip psikologis dan prosedur dipergunakan untuk membantu orang dengan masalah pribadi. Biasanya, psikologi klinis melibatkan individu atau terapi kelompok yang dilakukan oleh seorang psikolog. Modifikasi perilaku dalam psikologi klinis, yang sering disebut terapi perilaku, telah diterapkan untuk membantu mengurangi berbagai masalah manusia (Hersen & Bellack, 1985; Hersen & Van Hasselt, 1987; Turner, Calhoun, & Adams, 1981). Prosedur modifikasi perilaku juga telah digunakan untuk melatih para psikolog klinis (Veltum & Miltenberger, 1989).
• Bisnis, Industri, dan Jasa Manusia
Penggunaan modifikasi perilaku dalam bidang ini disebut modifikasi perilaku organisasi atau manajemen perilaku organisasi (Frederickson, 1982; Luthans & Kreitner, 1985; reid et al., 1989; Stajkovic & Luthans, 1997). Prosedur modifikasi perilaku telah digunakan untuk meningkatkan prestasi kerja dan keselamatan kerja dan untuk memperkecil keterlambatan, ketidakhadiran, dan kecelakaan di tempat kerja. Selain itu, prosedur modifikasi perilaku telah digunakan untuk meningkatkan penampilan pengawas kerja. Penggunaan modifikasi perilaku dalam bisnis dan industri telah menghasilkan peningkatan produktivitas dan keuntungan bagi organisasi dan meningkatkan kepuasan kerja bagi para pekerja.
• Self-Management
Orang-orang menggunakan prosedur modifikasi perilaku untuk mengelola perilaku mereka sendiri. Mereka menggunakan prosedur pengelolaan diri untuk mengontrol kebiasaan pribadi, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, perilaku profesional, dan masalah-masalah pribadi (Brigham, 1989; Epstein, 1996; Watson & Tharp, 1993, Yates, 1986).
• Manajemen Anak
Orangtua dan guru dapat belajar menggunakan prosedur modifikasi perilaku untuk membantu anak-anak mengatasi perilaku mengompol, menggigit kuku, marah-marah, ketidakpatuhan, perilaku agresif, perilaku buruk, gagap, dan masalah umum lainnya (Watson & Gresham, 1998).
• Hal-hal yang berhubungan dengan Pencegahan
Prosedur modifikasi perilaku telah diterapkan untuk mencegah masalah dalam masa kanak-kanak (Robert & Peterson, 1984). Aplikasi lain dari modifikasi perilaku di bidang pencegahan termasuk di dalamnya pencegahan pelecehan seksual, penculikan anak, kecelakaan di rumah, pelecehan anak, perilaku mengabaikan anak, dan penyakit menular seksual (Carroll, Miltenberger, & O'Neill, 1992; Montesinos, Frisch, Greene , & Hamilton, 1990; Poche, Yoder, & Miltenberger, 1988). Mencegah masalah dalam masyarakat dengan modifikasi perilaku merupakan salah satu aspek dari psikologi masyarakat
• Sports Psychology (Psikologi olahraga)
Modifikasi perilaku digunakan secara luas dalam bidang psikologi olahraga (Martin & Hrycaiko, 1983). Prosedur modifikasi perilaku telah digunakan untuk meningkatkan kinerja atletik dalam berbagai macam olahraga selama latihan dan dalam pertandingan (Brobst & Ward, 2002; Hume & Crossman, 1992; Kendall, Hrycaiko, Martin, & Kendall, 1990; Wolko, Hrycaiko, Martin , 1993; Zeigler, 1994).
• Perilaku yang berhubungan dengan kesehatan
Prosedur modifikasi perilaku digunakan untuk mempromosikan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dengan meningkatkan gaya hidup sehat (seperti olahraga dan nutrisi yang baik) dan mengurangi perilaku yang tidak sehat (seperti merokok, minum, dan makan berlebihan). Prosedur modifikasi perilaku juga digunakan untuk memperkenalkan perilaku yang memiliki pengaruh positif terhadap fisik atau masalah-masalah medis seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, dan gangguan gastrointestinal
• Gerontology(Ilmu mengenai usia lanjut)
Prosedur modifikasi perilaku diterapkan di panti jompo dan fasilitas perawatan lain untuk membantu mengelola perilaku orang lanjut usia (Hussain, 1981; Hussain & Davis, 1985). Prosedur modifikasi perilaku digunakan untuk membantu orang usia tua sehubungan dengan penurunan kemampuan fisik mereka, untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah jompo, untuk memperkenalkan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dan interaksi sosial yang tepat, dan untuk mengurangi masalah perilaku yang mungkin timbul dari penyakit Alzheimer, jenis lain demensia, atau tuntutan kelembagaan (Carstensen & Erickson, 1986; Stock & Milan, 1993).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar